Pages

Kamis, 15 September 2011

Landasan Ekonomi Pendidikan


LANDASAN EKONOMI PENDIDIKAN
 
Oleh :
Malalina (20102512008)
Febrina Bidasari (20102512018)
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya

A.      PERAN EKONOMI DALAM PENDIDIKAN
Peran ekonomi secara makro berpengaruh dalam bidang pendidikan, yaitu :
a.    Cukup banyak orang kaya sudah mau secara sukarela menjadi bapak angkat agar anak-anak dari orang tua tidak mampu bisa bersekolah.
b.    Terlaksananya sistem ganda pendidikan. Sistem ganda pendidikan yaitu kerjasama antara sekolah dengan pihak usahawan dalam proses belajar mengajar.
c.    Munculnya sejumlah sekolah unggulan. Sekolah ini didirikan oleh orang-orang kaya atau kumpulan dari mereka.

Peran ekonomi secara mikro dalam pendidikan yaitu :
Tingkat kehidupan sekolah atau perguruan tinggi sangat ditentukan oleh kondisi ekonominya masing-masing. Sekolah atau perguruan tinggi yang kaya semua jenis pembiayaan dapat diberi dana sebagaimana mestinya sebaliknya sekolah atau perguruan tinggi yang miskin sangat sulit bergerak, menggaji guru atau dosen masih sulit apalagi membuat gedung atau membeli perlengkapan belajar yang canggih sangat tidak mungkin dilaksanakan.
Inti tujuan pendidikan ini adalah membentuk mental yang positif atau cinta terhadap prestasi, cara kerja dan hasil kerja yang sempurna. Tidak menolak pekerjaan kasar, menyadari akan kehidupan yang kurang beruntung dan mampu hidup dalam keadaan apapun.
Faktor utama yang mendukung pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat, yaitu :
1.  Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien,
2. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada.

B.       FUNGSI PRODUKSI DALAM PENDIDIKAN
Fungsi produksi adalah hubungan antara output dengan input. Jadi suatu organisasi pendidikan dikatakan produktif kalau paling sedikit memiliki keseimbangan antara output dengan input. Fungsi produksi dalam pendidikan bersumber dari buku Thomas yaitu Fungsi produksi administrator, fungsi produksi psikologi, fungsi produksi ekonomi.

1.    Fungsi Produksi Administrator
            Fungsi produksi administrator adalahpengaturan biaya agar tidak merugikan lembaga ini adalah wewenang administrator, baik administrator terdepan, madya, maupun tertinggi.
Fungsi produksi administrator yang dipandang input adalah segala sesuatu yang menjadi wahana dan proses pendidikan. Input yang dimaksud adalah :
*    Prasarana dan sarana belajar, termasuk ruangan kelas.
*    Perlengkapan belajar, media, dan alat peraga baik di dalam kelas maupun di laboratorium, yang juga dihitung harganya dalam bentuk uang.
*    Buku-buku dan bentuk material lainnya seperti film, disket dan sebagainya.
*    Barang-barang habis pakai seperti zat-zat kimia di laboratorium, kapur, kertas, alat tulis.
*    Waktu guru bekerja dan personalia lainnya yang dipakai dalam memproses peserta didik.
Sementara itu yang dimaksud dengan Output dalam fungsi produksi ini adalah berbagai bentuk layanan dalam memproses peserta didik. Biaya input dibayar oleh lembaga, sedangkan biaya output akan dibayar oleh peserta didik. Output dan input keduanya dapat dihitung dengan uang. Lembaga pendidikan yang baik akan memungkinkan harga input sama atau lebih kecil daripada harga output.

2.    Fungsi Produksi psikologi
Input pada fungsi produksi ini adalah sama dengan input fungsi produksi administrator. Output fungsi produksi psikologi adalah semua hasil belajar siswa yang mencakup :
-   Peningkatan kepribadian                        
 -  Penambahan pengetahuan, ilmu dan teknologi
-   Pengarahan dan pembentukan sikap        
-   Penajaman pikiran
-   Penguatan kemauan                                 
-   Peningkatan keterampilan
-   Peningkatan estetika
Suatu lembaga pendidikan dipandang berhasil dari segi fungsi produksi psikologi, kalau harga inputnya sama atau lebih kecil daripada harga outputnya. Namun menghitung harga output pada fungsi produksi psikologi ini tidaklah mudah karena tidak mudah mengkuantitatifkan dan menguangkan aspek-aspek psikologi serta tidak ada variabel kontrol terhadap proses belajar mengajar dilembaga pendidikan.

3.    Fungsi Produksi Ekonomi
Input fungsi produksi ini adalah sebagai berikut :
*   Semua biaya pendidikan seperti pada input fungsi produksi administrator.
*   Semua uang yang dikeluarkan secara pribadi untuk keperluan pendidikan seperti uang saku, transportasi, membeli buku, alat-alat tulis dan sebagainya selama masa belajar atau kuliah.
*   Uang yang mungkin diperoleh lewat bekerja selama belajar atau kuliah, tetapi tidak didapat sebab waktu tersebut dipakai untuk belajar atau kuliah.
Sementara itu yang menjadi outputnya adalah tambahan penghasilan peserta didik kalau sudah tamat atau bekerja, manakala orang ini sudah bekerja sebelum belajar atau kuliah.
Sementara itu yang menjadi outputnya adalah tambahan penghasilan peserta didik kalau sudah tamat atau bekerja, manakala orang ini sudah bekerja sebelum belajar atau kuliah. Fungsi ini berhasil kalau harga inputnya sama atau lebih kecil daripada harga outputnya. Dinegara-negara berkembang untuk menghitung harga-harga pada fungsi produksi ekonomi tidaklah mudah.
Fungsi produksi ekonomi ini bertalian erat dengan marketing di dunia pendidikan. Menurut Kotler (1985) marketing adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengawasan yang memberikan perubahan nilai, dengan target pasar sebagai tujuan lembaga pendidikan. Marketing mencakup :
1.      Mendesain penawaran
2.      Menentukan kebutuhan atau keinginan pasar dalam hal ini calon peserta didik
3.      Menentukan harga efektif, mengadakan komunikasi, distribusi dan meningkatkan motivasi serta layanan.
Keuntungan marketing adalah misi pendidikan terselenggara secara lebih sukses, kepuasan masyarakat ditingkatkan, meningkatkan daya tarik terhadap petugas, peserta didik, dana, donatur dan sebagainya dan meningkatkan efisiensi kegiatan pemasaran.
Kelemahan marketing adalah kecenderungan lembaga pendidikan menjadi usaha dagang untuk mendapatkan keuntungan uang dan idealisme pendidikan cenderung diabaikan

C. EKONOMI PENDIDIKAN
Dunia pendidikan adalah lembaga yang berkewajiban mengembangkan individu manusia. Sebagai tempat pembinaan, pendidikan tidak memandang ekonomi sebagai pemeran utama seperti halnya bisnis. Ekonomi hanya sebagai pemegan peran yang cukup menentukan.
Ada hal lain yang lebih menentukan hidup matinya dan maju mundurnya suatu lembaga pendidikan dibandingkan dengan ekonomi, yaitu dedikasi, keahlian, dan keterampilan pengelola dan guru-gurunya.
Fungsi ekonomi dalam dunia pendidikan adalah untuk menunjang kelancaran proses pendidikan. Bukan merupakan modal untuk dikembangkan, bukan untuk mendapatkan keuntungan. Dengan demikian kegunaan ekonomi dalam pendidikan terbatas dalam hal-hal berikut :
1.    Untuk membeli keperluan pendidikan yang tidak dapat dibuat sendiri atau bersama para siswa, orang tua, masyarakat, atau yang tidak bisa dipinjam dan ditemukan di lapangan, seperti prasarana, sarana, media, alat belajar/peraga, barang habis pakai, materi pelajaran.
2.    Membiayai segala perlengkapan gedung seperti air, listrik, telepon, televisi dan radio.
3.    Membayar jasa segala kegiatan pendidikan seperti pertemuan-pertemuan, perayaan-perayaan, panitia-panitia, darmawisata, pertemuan ilmiah dan sebagainya.
4.    Untuk materi pelajaran pendidikan ekonomi sederhana, agar bisa mengembangkan individu yang berperilaku ekonomi, seperti hidup hemat, bersikap efisien, memiliki keterampilan produktif, memiliki etos kerja, mengerti prinsip-prinsip ekonomi.
5.    Untuk memenuhi kebutuhan dasar dan keamanan para personalia pendidikan.
6.    Meningkatkan motivasi kerja
7.    Membuat para personalia pendidikan lebih bergairah bekerja.

Sumber-sumber dana pendidikan meliputi :
1. Dari pemerintah dalam bentuk proyek pembangunan
2. Kerjasama dengan instansi lain, baik pemerintah maupun swasta
3. Membentuk pajak pendidikan.
4. Usaha lain seperti  mengadakan seni pentas keliling, membuat bazar dan sebagainya

Di dalam mengelola dan merencanakan sumber dana maka menurut jenisnya dana pendidikan terbagi atas :
1.    Dana rutin dan dana pembangunan dari pemerintah adalah dana yang dipakai untuk membiayai kegiatan rutin seperti gaji pendidikan pengabdian masyarakat, penelitian dan sebagainya.
2.    Dana pembangunan, adalah dana yang dipakai untuk membiayai pembangunan fisik diberbagai bidang artinya membangun prasarana dan sarana, alat belajar, media, dan kurikulum baru. Dana ini berasal dari pemerintah
3.    Dana bantuan masyarakat, termasuk SPP yang digunakan untuk membiayai hal-hal yang belum dibiayai oleh dana rutin dan pembangunan.
4.    Dana usaha lembaga sendiri yang penggunaanya sama dengan butir ke-3 di atas.

Ada tiga macam perencanaan biaya pendidikan yaitu sebagai berikut :
1.  Perencanaan sacara tradisional, yaitu merencanakan masing-masing pendidikan maka masing-masing pendidikan tersebut ditentukan biayanya.
2.  SP4, Pengaturan jenis-jenis kegiatan dalam pendidikan diatur dalam system, alokasi dana disusun berdasarkan realita, dan semua kegiatan ditujukan pada pencapaian target pendidikan.
3.  ZBB (Zero Base Budgeting), hanya diatur untuk satu tahun anggaran

Dalam pembentukan biaya pada setiap kegiatan haruslah memperhatikan: (Vizey, 1996).
1. Perubahan harga di pasar                               
2. perubahan jumlah barang yang diperlukan.    
3. Pertambahan jumlah siswa
4. Peningkatan standar pendidikan
5. Tingkat umur peserta didik .

D. EFFESIENSI DAN EFFEKTIVITAS DANA PENDIDIKAN
Yang dimaksud dengan efisiensi dalam menggunakan dana pendidikan adalah penggunaan dana yang harganya sesuai atau lebih kecil daripada produksi dan layanan pendidikan yang telah direncanakan. Sementara itu yang dimaksud dengan penggunaan dana pendidikan secara efektif adalah bila dengan dana tersebut tujuan pendidikan yang telah direncanakan bisa dicapai dengan relatif sempurna.
Pemerintah memandang perlu meningkatkan efisiensi pendidikan karena dana pendidikan sangat terbatas dan kedua, seperti halnya dengan departemen-departemen lain, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengalami banyak kebocoran dana. Untuk memanfaatkan dana yang sudah kecil ini secara optimal sangat diperlukan efisiensi dalam penggunaannya.
Menentukan tingkat efisiensi pendidikan dilakukan dengan :
1.    Penggunaan uang yang sudah dialokasikan untuk masing-masing kegiatan.
2.    Proses pada setiap kegiatan.
3.    Hasil masing-masing kegiatan.
Efektivitas biaya ialah upaya untuk mengetahui apakah sejumlah biaya tertentu dapat memberikan hasil pendidikan yang sudah ditentukan. Carpenter (1972) mengemukakan prinsip umum menilai efektivitas sebagai berikut :
1.   Menilai efektivitas adalah berkaitan dengan problem tujuan dan alat memproses input untuk menjadi output.
2.    Sistem yang dibandingkan harus sama, kecuali alat pemrosesnya.
3.   Mempertimbangkan semua output utama. Dalam pendidikan. Yang dikatakan output utama adalah jumlah siswa yang lulus.
4.    Korelasi diharapkan bersifat kausalitas. Yaitu korelasi antara cara memproses dengan output harus harus bersifat kausalitas.

Sumber :

Lisnawati, Cucu. Jurnal Pendidikan dan Budaya: Aspek Ekonomi dalam Pendidikan. Bandung. (online: http://educare.e-fkipunla.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=9, diakses tanggal 24 September 2010) 
Pidarta, Made.2007. Landasan Kependidikan: Stimulus Pendidikan bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

0 komentar:

Poskan Komentar