Pages

Kamis, 15 September 2011

TAHAP-TAHAP BELAJAR DARI JEROME BRUNER dan TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF DARI JEAN PIAGET

TAHAP-TAHAP BELAJAR DARI JEROME BRUNER

 Oleh :
Malalina (20102512008)
Febrina Bidasari (20102512018)
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya

A.      TEORI BELAJAR BRUNER
Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. Jerome Bruner, seorang ahli psikologi yang terkenal telah banyak menyumbang dalam penulisan teori pembelajaran, proses pengajaran dan falsafah pendidikan.
Bruner membagi dunia anak kedalam tahap yang berurutan, yaitu :
1. Tahap enaktif; dalam tahap ini peserta didik di dalam belajarnya menggunakan atau memanipulasi, mengutak-atik obyek-obyek secara langsung.
2.  Tahap ikonik; pada tahap ini menyatakan bahwa kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari obyek-obyek. Dalam tahap ini, peserta didik tidak memanipulasi langsung obyek-obyek, melainkan sudah dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari obyek. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep (Sugandi, 2004:37).
3.  Tahap simbolik; tahap ini anak memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak ada lagi kaitannya dengan objek-objek. Anak mencapai transisi dari pengguanan penyajian ikonik ke penggunaan penyajian simbolik yang didasarkan pada sistem berpikir abstrak dan lebih fleksibel. Dalam penyajian suatu pengetahuan akan dihubungkan dengan sejumlah informasi yang dapat disimpan dalam pikiran dan diproses untuk mencapai pemahaman.

B.       Teorema atau Dalil-dalil yang berkaitan dengan Pembelajaran Matematika
Bruner mengemukakan teorema atau dalil-dalil berkaitan dengan pengajaran matematika. Dalil-dalil itu timbul sebagai hasil pengamatannya kesekolah-sekolah dan hasil percobaan teman-temannya, yaitu : (dalam Rusefendi, 1991)

1.   Dalil Penyusunan ( Contruction theorem)
Cara yang paling baik bagi anak untuk belajar konsep, dalil, dan lain-lain dalam matematika dengan melakukan penyusunan representasinya. Pada langkah-langkah permulaan belajar konsep, pengertian akan lebih melekat bila kegiatan-kegiatan yang menunjukkan representasi konsep itu dilakukan oleh siswa sendiri.
Misalnya bila guru atau siswa ingin menunjukkan arti 2, siswa sendiri supaya menyajikan sebuah himpunan dengan 2 anggota.
2.  Dalil Notasi (Notation Theorem)
Pada permulaan suatu konsep disajikan, supaya dipergunakan notasi yang sesuai dengan tahap perkembangan mental siswa. Notasi {    }, tidak diberikan kepada siswa dipermulaan SD. Demikian juga notasi anggota himpunan . Notasi fungsi f(x) hanya dipakai untuk siswa SMA atau mahasiswa di Perguruan Tinggi. Untuk anak SD digunakan tanda ˆ atau D, misalnya ˆ = D + 4.
3.  Dalil Pengkontrasan atau keanekaragaman (Contras and Variation Theorem)
Dalam langkah-langkah mengubah representasi kongkrit ke representasi lebih abstrak suatu konsep matematika diperlukan adanya kegiatan pengkontrasan atau keanekaragaman. Maksudnya ialah, agar suatu konsep itu lebih bermakna bagi siswa konsep itu harus dikontraskan dengan konsep-konsep lain dan disajikan dengan beranekaragam contoh. Misalnya bilangan ganjil akan lebih bermakna bagi siswa bila dikontarskan (dibedakan) dari bilangan genap, bilangan prima dikontraskan dengan bilangan genap dan bilangan ganjil mempunyai faktor selain dari bilangan itu sendiri dan satu.
4.  Dalil Pengaitan (Conectivity Theorem)
Dalam matematika setiap konsep berkaitan dengan konsep lain. Begitu pula antara yang lainnya misalnya antara dalil dan dalil, antara teori dan teori, antara topik dan topik, antara cabang matematika (aljabar dan geometri). Oleh keran itu agar siswa dalam belajar matematika lebih berhasil siswa harus lebih banyak diberikan kesempatan untuk melihat kaitan-kaitan itu.
C.  Ciri khas Teori Bruner dan perbedaannya dengan teori yang lain
Ciri khas Teori Bruner dan perbedaannya dengan teori yang lain  Teori Bruner mempunyai ciri khas daripada teori belajar yang lain yaitu  tentang ”discovery” yaitu belajar dengan menemukan konsep sendiri. Disamping  itu, karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-penulangan, maka desain yang berulang-ulang itu disebut ”kurikulum spiral kurikulum”. Secara singkat,  kurikulum spiral menuntut guru untuk memberi materi pelajaran setahap demi  setahap dari yang sederhana ke yang kompleks, dimana materi yang sebelumnya  sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi di dalam suatu materi  baru yang lebih kompleks. Demikian seterusnya sehingga siswa telah mempelajari  suatu ilmu pengetahuan secara utuh. (http://arifwidiyatmoko.wordpress.com/2008/07/29/%E2%80%9Djerome-bruner-belajar-penemuan%E2%80%9D/)


D.    BELAJAR PENEMUAN
Salah satu model pembelajaran dari Jerome Bruner yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning). Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Discovery learning dari Bruner merupakan model pengajaran yang melambangkan berdasarkan pada pandangan kognitif tentang pembelajaran dalam prinsip konstruksitivis dan discovery learning siswa didorong untuk belajar sendiri secara mandiri. (http://andalus-andalusiaviews.blogspot.com/2010/04/teori-tahap-tahap-belajar-dari-jerome.html)
Menurut Jerome Bruner manusia mempunyai kapasitas dan kecendrungan untuk berubah karena menghadapi kejadian yang umum. Ingatan mempunyai beberapa fase, yaitu
1.  waktunya sangat singkat (extremely short term)/ingatan segera (immediate memory) (item hanya dapat disimpan dalam beberapa detik).
2.  Ingatan jangka pendek (short term) (items dapat ditahan dalam beberapa menit),
3. ingatan jangka panjang (long term) (penyimpanan berlangsung beberapa jam sampai seumur hidup).
Adapun tahap-tahap penerapan belajar penemuan adalah :
1.  Stimulus ( pemberian perangsang)
2.  Problem Statement (mengidentifikasi masalah)
3.  Data collection ( pengumpulan data)
4.  Data Prosessing (pengolahan data)
5.  Verifikasi
6.  Generalisasi

Brunner mengajukan bahwa dalam pembelajaran hendaknya mencangkup:
1. Pengalaman – pengalaman optimal untuk mau dan dapat belajar. Artinya bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu.
2. Penstrukturan Pengetahuan untuk Pemahaman optimal. Pembelajaran hendaknya dapat memberikan struktur yang jelas dari suatu pengetahuan yang dipelajari anak–anak.
3.  Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajran secara optimal, dengan memperhatikan faktor-faktor belajar sebelumnya, tingkat perkembangan anak, sifat materi pelajaran dan perbedaan individu.
4.  Bentuk dan pemberian reinforsemen.

Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan. Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa  kebaikan. Diantaranya adalah (http://www.scribd.com/doc/41730511/Makalah Jerome-Bruner) :
1.  Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat.
2.  Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik.
3.  Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas.

Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan  berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau  kesimpulan tertentu Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap. Ketiga tahap  itu adalah:
1.  Tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau  pengalaman baru,
2.  tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan  menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain,
3.  evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah  hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak.
Dalam belajar penemuan, metode dan tujuan tidak sepenuhnya beriring. Tujuan belajar bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan saja. Tujuan belajar sepenuhnya  ialah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat melatih kemampuan  intelektual siswa dan merangsang keingintahuan mereka dan memotivasi kemampuan  mereka. Inilah yang dimaksud dengan memperoleh pengetahuan melalui belajar  penemuan.



TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF DARI JEAN PIAGET

Jean Piaget lahir di Neuchâtel, Swiss, 9 Agustus 1896 – meninggal 16 September 1980 pada umur 84 tahun) adalah ahli ilmu jiwa dan biologi swiss. Tetapi ada pula yang mengatakan bahwa sebenarnya ia bukan betul-betul ahli jika (tidak bersekolah untuk menjadi ahli ilmu jiwa), ia banyak menggunakan istilah-istilah ilmu Jiwa. Bidang utamanya adalah falsafah dan biologi. Ia seorang ahli zoologi melalui sekolah
Ia mengadakan penelitian kepada anak-anak orang barat dimulai dengan penelitian kepada anaknya sendiri. Dari penelitiannya itu timbullah teori belajarnya yang biasa disebut “Teori Perkembangan Mental Manusia”. Perkataan mental pada teorinya itu biasa juga disebut “intelektual” atau “kognitif”. Teorinya disebut teori belajar sebab berkenaan dengan kesiapan anak untuk mampu belajar. Teorinya ii menetapkan ragam dari tahap-tahap perkembangan intelektuan manusia dari lahir sampai dewasa serta ciri-cirinya dari setiap tahap itu. (Ruseffendi, 1991)

A. PENGERTIAN KOGNITIF
Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berfikir Kognitif (kognisi) juga diartikan perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan (http://zona.uimadura.ac.id/teori-perkembangan-kognitif-jean-piaget/)
Kemuadian istilah kognitif ini menjadi popular sebagai salah satu wilayah psikologi manusia/satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputisetiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesngajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan.


B. PRINSIP DASAR TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF JEAN PIAGET
Theory Jean Piaget membahas munculnya dan diperolehnya skema-skema tentang bagaimana seseorang mempersepsikan lingkungannya. Dalam tahapan tahapan perkemabangan, saat seorang memperoleh cara baru dalam mempersepsikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan kedalam konstruktivisme ; yang berpendapat bahwa kita membangun kognitif melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan dimana tinggal atau berada. (http://zona.uimadura.ac.id/teori-perkembangan-kognitif-jean-piaget/)


C. PERKEMBANGAN INTELEKTUAL
http://luluvikar.wordpress.com/2010/12/16/jean-piaget/ Dalam perkembangan intelektual ada tiga hal penting yang menjadi perhatian Piaget yaitu struktur, isi dan fungsi (Piaget , 1988: 61 ; Turner, 1984: 8).
1.  Struktur, Piaget memandang ada hubungan fungsional antara tindakan fisik, tindakan mental dan perkembangan logis anak-anak. Tindakan (action) menuju pada operasi-operasi dan operasi-operasi menuju pada perkembangan struktur-struktur.
2.  Isi, merupakan pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respon yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.
3.  Fungsi, adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual. Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi memberikan pada organisme kemampuan untuk mengestimasikan atau mengorganisasi proses-proses fisik atau psikologis menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan. Adaptasi, terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian orang itu berkembang.
Akomodasi. Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium). Akibat ketidakseimbangan itu maka terjadilah akomodasi dan struktur kognitif yang ada akan mengalami perubahan atau munculnya struktur yang baru. Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

D. TAHAP PERKEMBANGAN KOGNITIF
Menurut Piaget, tahap perkembangan inteluektual anak secara kronologis terjadi 4 tahap. Urutan tahap-tahap ini tetap bagi setiap orang, akan tetapi usia kronologis memasuki setiap tahap bervariasi pada setiap anak. Keempat tahap dimaksud adalah sebagai berikut: (Ruseffendi, 1991)
1.  Periode Sensori Motorik (dari lahir sampai usia sekitar 2 Tahun)
Tahap pertama dari teori perkembangan mental manusia dari J. Paget adalah tahap sensori motor. Bagi anak pada tahap ini, yang utama adalah pengalaman melalui berbuatatau sensori. Berpikirnya melalui perbuatan (tindakan), gerak dan reaksi spontan. Ciri-ciri tahap sensori motor adalah :
a. Sebaran umur dari lahir sampai sekitar 2 tahun
b. Anak belajar mengembangkan dan menyelaraskan gerak jasmaniahnnya dengan perbuatan mentalnya menjadi tindakan-tindakan atau perbuatan yang teratur dan pasti dan juga ia belajar mengkoordinasikan akal dan geraknya. Kegiatan penyelarasan perbuatan gerak fisik dan perbuatan mentalnya itu disebut ”Schemata”
c. Anak berfikir melalui perbuatan dan gerakan
d. Perkembangan yang terjadi pada tahap ini ialah dari gerak refleks ngemot dan gerak mata sampai kepada dapat makan, melihat, memegang, berjalan dan berbicara.
e. Pada akhir tahap ini anak belajar mengaitkan simbol benda dengan benda konkritnya, hanya masih sukar. Misalnya ia mengaitkan penglihatan mentalnya dengan penglihatan real dari benda yang disembunyikan. Pada akhir tahap ini anak belajar bahwa benda yang disembunyikan dari penglihatan itu tidak menghilang terus, sebelumnya ia mengiri hilang terus.
f. Pada akhir tahap ini anak mulai melakukan perbuatan coba-coba berkenalan dengan benda-benda konkrit (disusunnya, diutak-atik dan lain-lain)

2.   Tahapan Preoperasi (Usia dari sekitar 2 sampai sekitar 7 Tahun)
Tahap ini adalah tahap persiapan dalam pengorganisasian operasi kongkrit. Tahap ini dapat dibagi kedalam tahap berpikir prekonseptuan dan tahap berpikir intuitif.
Ciri-ciri tahap preoperasi adalah :
a. Sebaran umur sekitar 2 tahun samapai 7 tahun; untuk tahap berpikir prekonseptual sekitar 2—4 tahun dan tahap berpikir intuitif sekitar 4—7 tahun,
b. Bila kita bandingkan pada tahap ini anak berpikir internal (penghayatan kedalam) sedangkan pada tahap sensori motor dengan gerak atau perbuatan. Anak pada tahap prekonseptual memungkinkan representasi sesuatu dengan bahasa, gambar dan permainan khayalan.
Penilaian dan pertimbangan anak pada tahap berfikir intuitif didasarkan kepada persepsi pengalaman sendiri, tidak kepada penalaran.
c. Anak mangaitkan pengalaman yang ada pada dunia luar dengan pengalaman pribadinya. Anak mengira bahwa cara berfikir dan pengalamannya dimilliki pula oleh orang lain.
d. Ia mengira bahwa benda-benda tiruan itu memiliki sifat-sifat sebenarnya. Contoh perlakuan anak terhadap nonekanya, seperti perlakuannya terhadap anak yang sebenarnya (mengajak bicara, mengasih makan dan minum, menyuruh tidur dan lain-lain)
e. Anak pada tahap ini tidak dapat membendakan antara kejadian-kejadian yang sebenarnya dengan khayalan. Karena itu bila ia berdusta, berdustanya itu bukan karena moralnya jelek, tetapi karena kelemahannya tidak dapat membedakan mana fakta dan mana fantasi.
f. Ia berpendapat bahwa benda-benda itu berbeda bila kelihatannya berbeda. Anak menyebutnya bila sesuatu itu sama bila mirip.
g. Anak pada tahap ini memiliki kesukaran membalikkan dan menggulung pemikiran (perbuatan).
h. Anak mendapat kesukaran untuk memikirkan dua aspek atau lebihdari suatu benda secara serempak.
i.  Ia tidak berpikir induktif maupun deduktif tetapi transitif (dari khusus ke kusus)
j.  Anak mampu memanipulasi benda konkrit
k. Anak mulai dapat membilang dan menggunakan benda konkrit, misalnya jari.
l. Pada akhir ini anak dapat memberikan alasan atau keyakinan dapat mengelompokkan benda-benda berdasarkan satu sifat khusus yang sederhana dan mulai dapat memperoleh konsep yang sebenarnya
m. Ia belum dapat memahami korespondensi satu-satu untuk memahami  banyaknya (kesamaan dan ketidaksamaaan)
n. Ia kesukaran memahami konsep ketakhinggaan dan pembagian tak terbatas dari sebuah ruas garis atau rusa garis-garis yang lebih kecil panjangnya.

3.  Tahapan Oprasional Kongkrit (usia dari sekita 7 tahun sampai sekitar 11-12 tahun atau lebih)
   Pada tahap ini anak apat memahami operasi (logis) dengan bantuan benda-benda kongkrit.
       Ciri-ciri operasi kongkrit adalah :
a. Sebaran umur dari sekitar 7 tahun sampai sekitah 11/12 tahun atau 13; kadang-kadang lebih.
b. Pada permulaan tahap ini egoisme mengurang. Mereka mulai bersedia bermain dengan anak-anak lain, mengizinkan  anak lain menggabungkan diri bermain dengan permainan pribadinya, tukar-menukar permainan dan lain-lain.
c.  Dapat mengelompokkan benda-benda yang memiliki karakter kedalam himpunan dan himpunan bagian dengan karakter khsusu dan dapat melihat beberapa karakteristik suatu benda secara serempak.
d. Mampu berkecimpung dalam hubungan kompleks antara kelompok-kelompok, dapat membalikkan operasi dan prosedur dan dapat melihat langkah (keadaan) antara” dari suatu perubahan.
e. Bila dalam tahap preoperasional memahami konsep kekekalan belum ada, pada tahap ini sudah ada.
f.  Mampu melihat sudut pandang orang lain. Pada tahap ini anak belajar membedakan antara perbuatan salah yang disengaja dengan kesalahan tidak disengaja.
g. Dapat menyelesaikan soal-soal seperti  + 3 = 9
h. Dapat menggunakan tambang panjang 3, 4, 5 m dan bilangan pythagoras lainnya untuk membuat segitiga siku-siku
i.  Pada tahap ini anak-anak senang membuat benda bentukan, memanipulsi benda, dan membuat alat mekanis
j.  Pada akhir tahap ini dapat memberi alasan deduktif dan induktif, tetapi masih banyak memandang contoh dari suatu prinsi umum sebagai hal-hal yang tidak berhubungan
k. Berpikir pada tahap ini lebih dinamis, berpikir kedepan-kebelakang dalam suatu struktur atau konteks.
l.  Masih mendapat kedukaran menjelaskan pribahasa dan tidak mampu melihat arti yang tersembunyi. Tetapi dapat memahami orang yang membadut (berjenaka)
m. Sebelum akhir tahap ini anak jarang dapat membuat definisi deskriptif yang tepat, meskipun demikian ia dapat mengingat-ingat definisi buatan orang lain dan mengatakannya kemlai (apa yang dihafalkannya)
n. Masih kesukaran mengerti abstraksi verbal dan jarang dapat menyelesaikan soal cerita.
o. Tahap ini disebut tahap operasi konkrit sebab ahli ilmu jika menemukan anak-anak antara usia 7 – 12 tahun mendapat kesukaran dalam menerapkan proses intelektual formal ke simbol-simbol verbal dan ide-ide abstrak.

4.  Tahap operasi Formal
Operasi formal pada tahap perkembangan mental ini tidak berhubungan dengan ada tidaknya benda-benda konkrit, tetapi berhubungan dengan tipe berpikir. Apakah situasinya disertai oleh benda-benda konkrit atau tidak, tidak menjadi masalah.
Ciri-ciri tahap operasi formal adalah :
a. Umur dari 11-12 tahun keatas, anak-anak pada tahap ini disebut anak dewasa.
b. Tidak memerlukan lagi perantara operasi konkrit untuk menyajikan abstraksi mental secara verbal.
c. Ia dapat mempertimbangkan banyak pandangan sekaligus, misalnya dapat bermain ”bride” dengan bai, dapat menyusun desain percobaan.
d. Mulai belajar merumuskan hipotesis (perkiraan) sebelum ia berbuat. Misalnya ia dapat memperkirakan apa yang akan terjadi pada waktu menggoreng bila ia memasukkan ayam berair kedalam ketel berminyak yang sangat panas.
e. Dapat merumuskan dalali/teori (misalnya dalil pythagortas)
f.  Dapat menghayati derajat kebaikan dan kesalahan dan dapat memandang definisi, aturan dalil dalam konteks yang benar dan objektif.
g. Dapat berpikir deduktif dan induktif, dapat memberikan alasan-alasan dari kombinasi pernyataan dengan menggunakan konjungsi, disjungsi, negasi dan implikasi (misal jika x maka y)

E. TEORI PENGETAHUAN PIAGET
Teori pengetahuan Piaget adalah teori adaptasi kognitif. Dalam pembentukan pengetahuan , Piaget membedakan tiga macam pengetahuan, yakni : (http://luluvikar.wordpress.com/2010/12/16/jean-piaget/)
1.   Pengetahuan fisis adalah pengetahuanakan sifat-sifat fisis suatu objek atau kejadian, seperti bentuk, besar, berat, serta bagaimana objek itu berinteraksi dengan yang lain.
2.  Pengetahuan matematis logis adalah pengetahuan yang dibentuk dengan berpikir tentang pengalaman akan suatu objek atau kejadian tertentu.
3. Pengetahuan sosial adalah pengetahuan yang didapat dari kelompok budaya dan sosial yang menyetujui sesuatu secara bersama.


F. TEORI KONSTRUKTIVISME
Teori konstruktivisme Piaget menjelaskan bahwa pengetahuan seseorang adalah bentukan (bentukan) orang itu sendiri. Proses pembentukan pengetahuan itu terjadi apabila seseorang mengubah atau mengembangkan slkema yang tslah dimiliki dalam berhadapan dengan tantangan, dengan rangsangan atau persoalan.
Teori Piaget seringkali disebut konstruktivisme personal karena lebih menekankan pada keaktifan pribadi seseorang dalam mengkonstruksikan pengetahuannya. Terlebih lagi karena Piaget banyak mengadakan penelitian pada proses seorang anak dalam belajar dan membangun pengetahuannya. (http://luluvikar.wordpress.com/2010/12/16/jean-piaget/)


DAFTAR PUSTAKA

0 komentar:

Poskan Komentar